Jendela petualang

Seorang anak laki-laki bernama Dika tinggal di daerah pedesaan yang jauh dari kota. Akses pendidikan di desanya sangat terbatas. Namun, Dika tidak menyerah. Setiap hari, ia berjalan kaki beberapa kilometer menuju perpustakaan terdekat untuk membaca dan belajar. Dika menganggap perpustakaan sebagai jendela peluang untuk mencapai impian pendidikannya.

Di sekolah Nusa Bangsa yang merupakan tempat sekolah Dika untuk mengejar ilmu, terdapat sebuah perpustakaan besar dan cukup lengkap bukunya yang telah disediakan oleh sekolah. Dika yang memiliki uang saku yang cukup sedikit, tentu saja ia memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat istirahatnya. Dika sangat jarang pergi ke kantin, karena uang saku yang ia terima dari orang tuanya hanya cukup sebagai ongkos pergi dan pulang sekolah ke rumah.

Setiap hari, Dika tidak pernah absen untuk selalu meminjam buku di perpustakaan untuk dibaca dan dicatat pada saat ia berada di rumahnya. Lalu, di suatu hari, teman sekelas Dika memberitahukan kepada kepala sekolah bahwa Dika adalah murid yang memiliki pengetahuan dan wawasan luas. Untuk itu, Dika diminta oleh kepala sekolah agar mengikuti olimpiade sejarah yang akan diadakan sebagai bentuk perayaan di hari pahlawan.

Awalnya, Dika kurang percaya diri untuk mengikuti olimpiade tersebut. Namun, berkat dukungan dan semangat dari orang tua, teman, serta guru. Akhirnya, Dika berani untuk mengambil langkah mengikuti olimpiade sejarah itu. Dan beberapa minggu kemudian, pengumuman perlombaan telah keluar hasilnya. Dika merasa sangat terkejut dengan hasil yang diterimanya, bahwa ia mendapatkan juara 1 olimpiade sejarah dan berhasil membawa uang sejumlah uang.

Kemenangan yang sudah diraih oleh Dika, membuat kedua orang tuanya merasa bangga. Bukan hanya itu, Dika juga berhasil lolos dalam program beasiswa di luar negeri. Akhirnya, berkat perpustakaan dan hobi membacanya, Dika bisa mewujudkan semua impiannya untuk menempuh pendidikan di luar negeri.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai